Jumat, 01 April 2011

My Lowest Point

Apa sih masalah ter-lebay yang mungkin dipunyai oleh seorang perempuan berusia hampir 24 tahun dan hidup di pinggiran selatan kota Jakarta dengan keluarga yang (Alhamdulillah) tidak brokenhome?

I was talking about myself.  Hahaha.

Yap. Diri saya sendiri.

Biarkan saya menceritakan hidup saya selama hampir 24 tahun ini secara sangat singkat.

Saya lahir di keluarga yang cukup. Seingat saya, saya nggak pernah merasa susah makan atau susah beli mainan. Tapi, masih tetep kudu merasakan indahnya naik Metromini, Angkot, Andong, dan transportasi publik lain karena di rumah cuma ada satu kendaraan dan itu dipakai bekerja orangtua saya. Sampai saya kuliah kemarin, tidak pernah ada kesulitan finansial yang berarti. Makan cukup, belanja pakaian pun cukup.

Prestasi? Mmm, saya anak yang biasa-biasa saja. Fluktuatif sebenarnya. Saya pernah rangking 2 di kelas (waktu kelas 1 SMP kalau nggak salah) tapi juga pernah dapat straight 5 untuk Kimia, Biologi dan Fisika di kelas 2 SMA. Ketika kuliah pun saya menikmati berbagai variasi nilai, mulai dari A, B, C sampai D. Untung saya masih agak rajin kuliah, jadi belum pernah merasakan E.

Pertemanan? Saya rasa saya orang yang menyenangkan. Karena seingat saya, saya belum pernah dimusuhi siapapun, kecuali karena rok abu-abu saya kependekan atau nggak sengaja memiliki bentuk poni yang sama dengan senior waktu di SMA. Teman saya lumayan banyak. Cukuplah untuk sebagai tempat sampah (baca: curhat) dan teman main menggelinjang bergila ria. Populer? Nggak kayanya. Kalaupun waktu SMA saya agak ngetop, itu karena saya benalu sama orang-orang ngetop alias ngintil mulu. Hahahaha.

Percintaan? Ini juga biasa. Tidak ada yang terlalu ups atau downs. Saya pernah punya pacar, pernah ngerasain mutusin pacar, diputusin sampai dibilang 'nggak usah hubungin gue lagi'-pun pernah. Normal lah. Bukan kisah cinta yang terpisah karena maut lantaran pacar saya kena Leukimia dan saya butuh bertahun-tahun untuk move on (oke, ini terinspirasi sama Endless Love si drama Korea itu).

Intinya, hidup saya sangat normal. Sama sekali tidak mengadopsi cerita sinetron Indonesia manapun.

Lalu belakangan, saya merasa hidup saya agak rollercoasting. Apalagi sekarang. Super single dan tak punya pekerjaan di usia hampir 24 tahun dan di tahun kedua kelulusan saya. Is it hard? Yes! Pada awalnya. Kenapa? Karena seperti yang sudah saya ceritakan panjang lebar, hidup saya senantiasa berjalan sangat normal. Tidak banyak liku dan drama. Namun, entah kenapa Tuhan memilih untuk menguji kesabaran saya di tahun ke 24 hidup saya.

Berat, lho, menghadapi ini. Apalagi saya anak pertama. Sudah tidak seharusnya orangtua saya mengeluarkan sepeser pun rupiah untuk saya. Dana sudah harus dialokasikan sepenuhnya untuk kedua adik saya. Saya pun hampir 25 tahun. Sudah seharusnya saya tidak menambah-nambah pikiran orangtua saya dengan tidak memulai hubungan serius dengan laki-laki yang bervisi pelaminan. Selintas, saya berpikir, saya jauh diluar ekspektasi orangtua saya. Jauh sekali. Belum lagi tekanan, yang dirasakan, datang dari orang-orang sekitar. Baik yang menanyakan langsung, maupun yang hanya berbagi cerita akan menikah atau akan naik pangkat. Saya merasa tertinggal jauh di belakang.

Tapi saya rasa, inilah nikmatnya punya Tuhan. Terkadang, ini bukan masalah dosa atau pahala, neraka atau surga. Tapi mengenai tempat mengadu dimana kita sudah tidak perlu tahu malu. Karena kita toh nggak bisa lihat wajah Tuhan kalaupun Dia memandang kita dengan tatapan pathetic untuk setiap keluhan yang kita buat. But, He'll be there. Saya pun bisa percaya sepenuhnya sama Dia, kalau Dia Maha Menepati Janji. Dia Maha Adil dan pasti akan mengembalikan semua yang memang seharusnya jadi milik saya, pekerjaan dan jodoh. At my lowest point pun saya mengimani bahwa kata-kata ibu saya selalu benar. Beliau tidak pernah berpesan panjang-lebar. Hanya satu: sabar. Entah karena dia orang Jawa atau apa, tapi hanya itu yang selalu beliau bilang.

Saya pribadi punya kata-kata tambahan selain sabar. Kata-kata yang saya ulang berkali-kali setiap kali saya merasa fubar.

"Maka, nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?"

At my lowest point, saya banyak belajar sabar. Dan tahu? Somehow, I don't feel that I am at my lowest point right now.

Minggu, 20 Maret 2011

Couldn't Be More Happier

Hari ini kepala saya dipenuhi keheranan.

Seorang teman mempunyai seorang pacar. Orang yang baik dan menurut saya, mereka berhasil membuat masing-masing dari diri mereka bergerak menuju arah yang lebih baik. Terlebih buat teman saya, ya. Saya merasa dia mendapatkan orang yang bisa menuntunnya berjalan selain Bapak dan Abangnya. Dan bagi saya, tidak ada perempuan yang lebih beruntung dari perempuan yang mendapatkan pacar yang mampu memimpinnya.

Tapi seperti biasa, tidak semua hal di dunia berjalan mulus. Kita perlu mati dan masuk surga tampaknya, untuk menghilangkan semua kerikil kurang penting dalam hidup.

Apa kerikil mereka?

Perbedaan keyakinan.

Selama kurang lebih empat tahun saya mengenal teman saya ini, belum pernah saya menyaksikannya pacaran di depan mata saya. Baru kemarin malam. Dan saya melihat dia bahagia. Walaupun pembicaraan mereka kadang penuh perdebatan, tapi saya tahu, she couldn't be more happier (saya per-lebay tuh tata bahasanya hehehe). Sayangnya, mereka tidak berpikir untuk melanjutkan hubungan. Kenapa? Karena berbeda keyakinan.

Saya lalu heran.

Bukan heran sih, aduh apa ya nama perasaannya, tapi kurang lebih saya merasakan 'what would you ask for more?'. Laki-laki baik dihadirkan di depan mata. Sesuatu yang dimohonkan beribu perempuan di luar sana. Sesuatu yang kalau dijalani pun hanya akan membawa sedikit keburukan. Kontra argumen yang biasa digunakan dalam kasus seperti ini adalah mengenai betapa tidak logisnya hubungan untuk dijalani. Aish.

Bagi saya, hidup itu kemungkinan. Menjalani hidup berarti bersiap untuk segala macam kemungkinan. Saya pernah rasanya berada dalam posisi mirip, dimana secara logika, melanjutkan hubungan dengan problema tertentu berarti tidak memberikan keuntungan apa-apa untuk saya, hanya menghabiskan waktu saja. Tapi seiring berjalan waktu saya mencoba belajar. Bahwa Tuhan membiarkan manusia hidup dengan rumus manjur untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang sifatnya kadang sangat tricky. Rumusnya: berusaha, berdoa, serahkan.

Hubungan berbeda keyakinan, menurut saya tricky. Di satu sisi, ingin mengedepankan perasaan diri sendiri, namun di sisi lain, kita ingin menjadi manusia yang mencintai Tuhan lebih dari apapun dan siapapun di dunia. Tapi buat saya, inilah baiknya Tuhan. Dia tidak memberikan kepastian. Dia membiarkan manusia memilih kemungkinan dan menjalaninya dengan Dia selalu berada di sisi manusia, mendampingi menjalani hari-hari menanggung konsekuensi atas dipilihnya suatu kemungkinan. Saya berpegang pada rumus diatas.

Saya akan memilih menjalani hubungan. Dengan rumus diatas. Bagi saya, biarlah bertahun-tahun lewat. Tidak akan terasa lama dan tidak mungkin sia-sia. Yang diperlukan hanya keluasan berpikiran dan kelapangan dada untuk menerima. Mengapa tidak menghadapi siang hari dengan positif, saling memberikan input baik bagi satu sama lain, lalu duduk bersimpuh dan memohon kepada Tuhan di malam hari, meminta petunjuk dari Sang Maha Baik. Hari-hari akan berlalu dengan sangat baik dan menyenangkan, dan pada akhirnya, akan tiba masa dimana semua pertanyaan dijawab, semua doa dikabulkan. Dan pada saat itu, berserahlah. Karena waktu berusaha sudah usai.

Karena menjalani kemungkinan tidak akan sia-sia dan menyerah di awal sudah tentu terlalu pengecut.

Dan logika? Tidakkah semua ilmu yang menggunakan logika kembali didasarkan pada nurani? Berhati-hatilah dengan logika. Bahkan hukum pidana pun lahir karena manusia mempunyai nurani.

Jika masih ada perasaan, majulah. Karena dalam hidup, yang penuh kemungkinan, belum tentu di masa depan kita diberi nikmat untuk merasakan rasa yang sama atau lebih besar dengan orang yang lain.

Jumat, 18 Maret 2011

A Friend's Marriage

Inget kan, post saya beberapa hari lalu tentang datang ke undangan pernikahan? Saya janji untuk kasih report tentang kedatangan saya ke pernikan seorang teman hari Minggu lalu.

What did I wear?

Saya pakai baju berwarna 'bersahabat' karena acaranya diselenggarakan siang hari dan di dalam kompleks sebuah masjid. Bisa berabe kalau saya pakai kostum yang ngalahin hebohnya Inul Daratista. Seperti bisa dilihat di bawah, saya pakai baju warna abu-abu dan celana warna pink terang (ini sebenarnya kostum pernikahan teman dekat saya setahun lalu :)). Untuk sepatu, saya memakai sepatu sendal warna pink (saya beli waktu sale, 150ribu dua pasang di Sudirman City Walk) dengan tinggi nggak lebih dari 5 cm. Ketika semua sudah pas bernuansa pink, saya shock. OH! Saya nggak punya tas pesta pink. Wow. Untung dompet saya agak besar, berwarna pink dan dipenuhi benang-benang yang bergradasi silver. Baiklah, this one is quite nice and so much match to my dress! :)




How about the face-do?

Untuk wajah, saya mengandalkan foundation dan blush on.  Sebenarnya, it is a very basic make up. Foundation, bedak, blush on, eye shadow, eye liner, lipstik dan maskara. No shading, karena saya ngeri ngalahin gorgeusnya make up si pengantin :). Untuk mata, saya memakai eye shadow pink tua untuk bagian kelopak dan soft pink untuk highlight di bagian tulang mata. Simple aja, yang penting wajah saya 'mencrang'. Hehehe. Untuk bibir, saya masih memakai pesonanya warna pink, tapi the soft one, bukan yang terang karena I just want to keep it simple for an afternoon event. Next time, kalau acara pernikahan malam hari, I plan to use bloody-red one. Hehehe.


And partner?

Saya mengajak teman baik saya, Nova. Yak, saya menjalankan tips No. 3. Pacar boleh nggak punya, tapi, teman selalu stand right beside you anytime, kan?



Inilah pengantinnya!



Saya doakan untuk kelanggengan cinta dan kesetiaan diantara mereka berdua. Amin.

And guess what? I had an amazing day, that day. No worries :)

Well, harapan saya, posting ini berguna. Good day!

Rabu, 16 Maret 2011

Mendengarkan Lagu Sepanjang Jalan

I am on my way home. On a bus. Sambil dengerin Sara Bareilles yang King of Anything. Dan ternyata lagu ini adalah salah satu dari sekian lagu yang membuat saya merasa seperti sedang bikin video klip, ketika saya dengerin di jalan.

"Who cares if you disagree?/ You were not me"

I'm just feeling so free lip sync this song along the road :)) And start to make me imagine that I am on my way to some trips outside the city, with my backpack and a pair of sneaker. Ahahahaha.

Do you guys have the same feeling for certain song?

Quote(s)

Saya suka banget quote. Dan kadang kepedean untuk bikin quote sendiri. Here we go. Some are quoted, some are mine :)

You are the one who is responsible for your own happiness (prittakartika, kind of very often hear about this and I just made the conclusion).

People do, others learn. You don't need to get into the same problem as others did (prittakartika).

You will never age for me, nor fade, nor die (Shakespeare in Love, Movie)