Kamis, 14 April 2011

Perempuan Negara Berkembang

Saya belum pernah merasa menjadi seorang feminis atau penentang feminis. Saya di tengah-tengah, deh, sebagaimana standar orang Indonesia kebanyakan. Maka, pembicaraan wanita-sentris kali ini, mohon jangan ditelan bulat-bulat. Saya takut kalian keselek dan sulit bernapas.

Saya, 24 tahun, perempuan, hidup di negara dunia ketiga a.k.a negara berkembang di kawasan Asia Tenggara. Kenapa negara dunia ketiga? Konon katanya karena negara-negara ini lahir paska atau pada masa Perang Dunia II dimana sebagian negara dalam golongan ini berada di wilayah Asia dan Afrika.

Secara awam, dari kacamata saya yang super ndeso dan terlalu banyak terkontaminasi oleh globalisasi-konsumtif, menjadi perempuan di negara berkembang itu dilematis. Sungguh sangat dilematis. Kami dihadapkan dalam dua kenyataan menohok: adat istiadat/kebiasaan/nilai dalam masyarakat dan tuntutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Secara general, kondisi negara berkembang didominasi oleh masyarakat yang masih memegang teguh nilai adat istiadat dan agama atau sesuatu yang disebut budaya ketimuran. Secara general pula, kebanyakan masyarakat di negara berkembang hidup di bawah garis kemiskinan, sebagian besar lain di garis pas-pasan dan sebagian kecil di jauh diatas garis pas-pasan. Percaya deh, walaupun Senayan City berdiri megah, bukan berarti 2 KM dari tempat itu sudah bersih dari anak SD yang sekolah bertelanjang kaki saking mahalnya sepatu. Perbandingannya bisa 1:100.000 Satu orang mampu membeli sepatu Rockport dan seratus ribu lainnya tidak bisa beli sepatu. Kondisi ini menyebabkan, perumpamaan membanting tulang di negara berkembang terdengar tidak berlebihan. Karena ya memang seperti itulah upaya masing-masing manusianya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, di masa biaya sekolah dan kesehatan belum kunjung murah atau gratis sekalian.

Disinilah kaum perempuan menemui dilemanya. Tidak bekerja, khawatir uang kurang untuk hidup. Sedangkan bekerja, banyak masalah, paling menyakitkan kalau dibilang perempuan yang nggak tahu kodrat. Kalau mau hidup hepi, mau nggak mau harus cari laki-laki mapan, eh, di peer group malah digosipin materialistis. Hah! Belum lagi mindset pria negara berkembang. Masih nggak mau kalah dari perempuan. Buat pria yang mungkin baca, CMIIW, setahu saya, kebanyakan pria merasa insecure dengan perempuan yang mapan. Apalagi dengan jabatan dan gaji lebih tinggi. Apesnya perempuan tipe ini, yah, terpaksa cari yang lebih tua yang paling mungkin menjamin jabatan dan penghasilannya bisa sama atau lebih tinggi.

Kalau mau di breakdown, perempuan negara berkembang punya beberapa pilihan dengan konsekuensi tertentu:

(1) Berkarir dengan super giat untuk sampai pada tahap pencapaian kesejahteraan tertinggi. Keuntungannya adalah super-mapan dengan koleksi pakaian dan sepatu menawan. Konsekuensinya, pria bisa merasa ngeri sampai minder. Aish. Berhubungan sama pria minder itu paling menyebalkan sedunia.

(2) Berkarir biasa saja. Pekerjaan tidak terlalu banyak. Waktu 9-5. Pendapatan biasa namun cukup. Tapi entah ya cukup untuk cicilan rumah dan mobil atau nggak. Keuntungannya, pergaulan cukup luas untuk menjaring pria-pria yang mungkin jodoh tanpa perlu khawatir mereka minder atau ngeri. Kerugian? Selamat ngiler ketika melewati etalase Debenhams.

(3) Usaha sendiri. Ini paling mungkin. Dari segi waktu, sangat fleksibel. Bisa kita atur mau jadi perempuan gila kerja atau santai. Penghasilan pun bisa diatur sedemikian rupa. Cuma kalau terlalu sukses, konsekuensi di poin pertama sangat mungkin terjadi. Nah. Konsekuensi paling mungkin lain dari poin ini adalah perempuan kudu pintar-pintar memilih tempat pergaulan kalau nggak mau jadi katak dalam tempurung. Pilihan jodoh juga bisa menyempit. Duh!

Opsi lain: cari yang memang sudah mapan. Tapi paling malas sih harus dengar komentar orang kalau kita materialistis. Atau komentar soal bagaimana-kita-nggak-setia-sejak-masa-susah yang konon bisa bikin suami tega selingkuh di kemudian hari. Sigh. (Inilah apes lain perempuan negara berkembang, pola pikir mau maju tapi pikiran masih suka jelek).

Marilah. Berserah pada Tuhan. Sebaik-baiknya penolong. Amin.

Kuku Rusak

Sudah kurang lebih 3 bulan saya menganggur. Tidak punya pekerjaan dalam arti yang membuat saya tergolong ke dalam kategori pengangguran dalam buku Geografi dan juga tidak ada pekerjaan dalam pandangan mamak yang mungkin menurut beliau saya seharusnya memasak atau membereskan rumah.

Sudah kurang lebih 2 bulan saya punya perasaan aneh yang sulit dibedakan antara patah hati atau kesepian. Kenapa sulit? Karena kasus kali ini saya ditinggalkan setelah beberapa masa bersama. Bukan beberapa hari naksir lalu cinta ditolak. Dua hal itu tipis, saudara-saudara. Dan untuk mengobatinya, penting untuk tahu persis penyakit mana yang kita derita.

Dan sudah kurang lebih 1 bulan saya selalu menonton drama seri Korea. Ah. Ini menyenangkan sekali, lho. Cerita dengan plot yang hampir sama tetapi bisa memberikan perasaan yang berbeda. Cerdas. Walaupun saya tidak pernah setuju dengan para laki-lakinya yang berpakaian terlalu feminin, apalagi berpayet.

Tiga hal diatas memang agak jauh berbeda. Tapi dampaknya sama: kuku rusak.

Sebagai seorang perempuan yang bukan ibu rumah tangga yang wajib mencuci baju, piring bahkan mobil, kuku-kuku saya belakangan tampak sangat parah. Bahkan lebih parah daripada pembantu saya yang dialihtugaskan melakukan pekerjaan-pekerjaan diatas oleh mamak saya. Sehingga, 3 bulan ini, terpaksa kuku-kuku saya dipotong sangat pendek. Mengantisipasi kerusakan lebih parah.

Menjadi menganggur membuat saya mempunyai waktu bengong terlalu banyak. Dan hal favorit yang saya lakukan disaat bengong adalah merusak kuku-kuku saya termasuk kulit di pinggirannya.

Menjadi bingung antara patah hati atau kesepian membuat saya sering kesal dan ingin merusakkan sesuatu. Dan yang paling mudah dan aman untuk dirusak adalah kuku-kuku saya termasuk kulit di pinggirannya.

Menonton drama seri Korea membuat saya gugup dan seru sendiri dengan ceritanya yang naik turun seperti roler koster. Kondisi begini selalu membuat saya melampiaskan dengan merusak kuku-kuku saya termasuk kulit di pinggirannya.

Sehingga, saya menjadi orang yang mudah ditebak. Lihat saja kuku-kuku saya. Pilihannya cuma tiga diatas, atau dua diantaranya atau salah satunya. Untuk hitungan probabilitas matematisnya, silahkan nonton film 21 yang ada Kate Bosworth di dalamnya.

Jumat, 01 April 2011

My Lowest Point

Apa sih masalah ter-lebay yang mungkin dipunyai oleh seorang perempuan berusia hampir 24 tahun dan hidup di pinggiran selatan kota Jakarta dengan keluarga yang (Alhamdulillah) tidak brokenhome?

I was talking about myself.  Hahaha.

Yap. Diri saya sendiri.

Biarkan saya menceritakan hidup saya selama hampir 24 tahun ini secara sangat singkat.

Saya lahir di keluarga yang cukup. Seingat saya, saya nggak pernah merasa susah makan atau susah beli mainan. Tapi, masih tetep kudu merasakan indahnya naik Metromini, Angkot, Andong, dan transportasi publik lain karena di rumah cuma ada satu kendaraan dan itu dipakai bekerja orangtua saya. Sampai saya kuliah kemarin, tidak pernah ada kesulitan finansial yang berarti. Makan cukup, belanja pakaian pun cukup.

Prestasi? Mmm, saya anak yang biasa-biasa saja. Fluktuatif sebenarnya. Saya pernah rangking 2 di kelas (waktu kelas 1 SMP kalau nggak salah) tapi juga pernah dapat straight 5 untuk Kimia, Biologi dan Fisika di kelas 2 SMA. Ketika kuliah pun saya menikmati berbagai variasi nilai, mulai dari A, B, C sampai D. Untung saya masih agak rajin kuliah, jadi belum pernah merasakan E.

Pertemanan? Saya rasa saya orang yang menyenangkan. Karena seingat saya, saya belum pernah dimusuhi siapapun, kecuali karena rok abu-abu saya kependekan atau nggak sengaja memiliki bentuk poni yang sama dengan senior waktu di SMA. Teman saya lumayan banyak. Cukuplah untuk sebagai tempat sampah (baca: curhat) dan teman main menggelinjang bergila ria. Populer? Nggak kayanya. Kalaupun waktu SMA saya agak ngetop, itu karena saya benalu sama orang-orang ngetop alias ngintil mulu. Hahahaha.

Percintaan? Ini juga biasa. Tidak ada yang terlalu ups atau downs. Saya pernah punya pacar, pernah ngerasain mutusin pacar, diputusin sampai dibilang 'nggak usah hubungin gue lagi'-pun pernah. Normal lah. Bukan kisah cinta yang terpisah karena maut lantaran pacar saya kena Leukimia dan saya butuh bertahun-tahun untuk move on (oke, ini terinspirasi sama Endless Love si drama Korea itu).

Intinya, hidup saya sangat normal. Sama sekali tidak mengadopsi cerita sinetron Indonesia manapun.

Lalu belakangan, saya merasa hidup saya agak rollercoasting. Apalagi sekarang. Super single dan tak punya pekerjaan di usia hampir 24 tahun dan di tahun kedua kelulusan saya. Is it hard? Yes! Pada awalnya. Kenapa? Karena seperti yang sudah saya ceritakan panjang lebar, hidup saya senantiasa berjalan sangat normal. Tidak banyak liku dan drama. Namun, entah kenapa Tuhan memilih untuk menguji kesabaran saya di tahun ke 24 hidup saya.

Berat, lho, menghadapi ini. Apalagi saya anak pertama. Sudah tidak seharusnya orangtua saya mengeluarkan sepeser pun rupiah untuk saya. Dana sudah harus dialokasikan sepenuhnya untuk kedua adik saya. Saya pun hampir 25 tahun. Sudah seharusnya saya tidak menambah-nambah pikiran orangtua saya dengan tidak memulai hubungan serius dengan laki-laki yang bervisi pelaminan. Selintas, saya berpikir, saya jauh diluar ekspektasi orangtua saya. Jauh sekali. Belum lagi tekanan, yang dirasakan, datang dari orang-orang sekitar. Baik yang menanyakan langsung, maupun yang hanya berbagi cerita akan menikah atau akan naik pangkat. Saya merasa tertinggal jauh di belakang.

Tapi saya rasa, inilah nikmatnya punya Tuhan. Terkadang, ini bukan masalah dosa atau pahala, neraka atau surga. Tapi mengenai tempat mengadu dimana kita sudah tidak perlu tahu malu. Karena kita toh nggak bisa lihat wajah Tuhan kalaupun Dia memandang kita dengan tatapan pathetic untuk setiap keluhan yang kita buat. But, He'll be there. Saya pun bisa percaya sepenuhnya sama Dia, kalau Dia Maha Menepati Janji. Dia Maha Adil dan pasti akan mengembalikan semua yang memang seharusnya jadi milik saya, pekerjaan dan jodoh. At my lowest point pun saya mengimani bahwa kata-kata ibu saya selalu benar. Beliau tidak pernah berpesan panjang-lebar. Hanya satu: sabar. Entah karena dia orang Jawa atau apa, tapi hanya itu yang selalu beliau bilang.

Saya pribadi punya kata-kata tambahan selain sabar. Kata-kata yang saya ulang berkali-kali setiap kali saya merasa fubar.

"Maka, nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?"

At my lowest point, saya banyak belajar sabar. Dan tahu? Somehow, I don't feel that I am at my lowest point right now.

Minggu, 20 Maret 2011

Couldn't Be More Happier

Hari ini kepala saya dipenuhi keheranan.

Seorang teman mempunyai seorang pacar. Orang yang baik dan menurut saya, mereka berhasil membuat masing-masing dari diri mereka bergerak menuju arah yang lebih baik. Terlebih buat teman saya, ya. Saya merasa dia mendapatkan orang yang bisa menuntunnya berjalan selain Bapak dan Abangnya. Dan bagi saya, tidak ada perempuan yang lebih beruntung dari perempuan yang mendapatkan pacar yang mampu memimpinnya.

Tapi seperti biasa, tidak semua hal di dunia berjalan mulus. Kita perlu mati dan masuk surga tampaknya, untuk menghilangkan semua kerikil kurang penting dalam hidup.

Apa kerikil mereka?

Perbedaan keyakinan.

Selama kurang lebih empat tahun saya mengenal teman saya ini, belum pernah saya menyaksikannya pacaran di depan mata saya. Baru kemarin malam. Dan saya melihat dia bahagia. Walaupun pembicaraan mereka kadang penuh perdebatan, tapi saya tahu, she couldn't be more happier (saya per-lebay tuh tata bahasanya hehehe). Sayangnya, mereka tidak berpikir untuk melanjutkan hubungan. Kenapa? Karena berbeda keyakinan.

Saya lalu heran.

Bukan heran sih, aduh apa ya nama perasaannya, tapi kurang lebih saya merasakan 'what would you ask for more?'. Laki-laki baik dihadirkan di depan mata. Sesuatu yang dimohonkan beribu perempuan di luar sana. Sesuatu yang kalau dijalani pun hanya akan membawa sedikit keburukan. Kontra argumen yang biasa digunakan dalam kasus seperti ini adalah mengenai betapa tidak logisnya hubungan untuk dijalani. Aish.

Bagi saya, hidup itu kemungkinan. Menjalani hidup berarti bersiap untuk segala macam kemungkinan. Saya pernah rasanya berada dalam posisi mirip, dimana secara logika, melanjutkan hubungan dengan problema tertentu berarti tidak memberikan keuntungan apa-apa untuk saya, hanya menghabiskan waktu saja. Tapi seiring berjalan waktu saya mencoba belajar. Bahwa Tuhan membiarkan manusia hidup dengan rumus manjur untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang sifatnya kadang sangat tricky. Rumusnya: berusaha, berdoa, serahkan.

Hubungan berbeda keyakinan, menurut saya tricky. Di satu sisi, ingin mengedepankan perasaan diri sendiri, namun di sisi lain, kita ingin menjadi manusia yang mencintai Tuhan lebih dari apapun dan siapapun di dunia. Tapi buat saya, inilah baiknya Tuhan. Dia tidak memberikan kepastian. Dia membiarkan manusia memilih kemungkinan dan menjalaninya dengan Dia selalu berada di sisi manusia, mendampingi menjalani hari-hari menanggung konsekuensi atas dipilihnya suatu kemungkinan. Saya berpegang pada rumus diatas.

Saya akan memilih menjalani hubungan. Dengan rumus diatas. Bagi saya, biarlah bertahun-tahun lewat. Tidak akan terasa lama dan tidak mungkin sia-sia. Yang diperlukan hanya keluasan berpikiran dan kelapangan dada untuk menerima. Mengapa tidak menghadapi siang hari dengan positif, saling memberikan input baik bagi satu sama lain, lalu duduk bersimpuh dan memohon kepada Tuhan di malam hari, meminta petunjuk dari Sang Maha Baik. Hari-hari akan berlalu dengan sangat baik dan menyenangkan, dan pada akhirnya, akan tiba masa dimana semua pertanyaan dijawab, semua doa dikabulkan. Dan pada saat itu, berserahlah. Karena waktu berusaha sudah usai.

Karena menjalani kemungkinan tidak akan sia-sia dan menyerah di awal sudah tentu terlalu pengecut.

Dan logika? Tidakkah semua ilmu yang menggunakan logika kembali didasarkan pada nurani? Berhati-hatilah dengan logika. Bahkan hukum pidana pun lahir karena manusia mempunyai nurani.

Jika masih ada perasaan, majulah. Karena dalam hidup, yang penuh kemungkinan, belum tentu di masa depan kita diberi nikmat untuk merasakan rasa yang sama atau lebih besar dengan orang yang lain.

Jumat, 18 Maret 2011

A Friend's Marriage

Inget kan, post saya beberapa hari lalu tentang datang ke undangan pernikahan? Saya janji untuk kasih report tentang kedatangan saya ke pernikan seorang teman hari Minggu lalu.

What did I wear?

Saya pakai baju berwarna 'bersahabat' karena acaranya diselenggarakan siang hari dan di dalam kompleks sebuah masjid. Bisa berabe kalau saya pakai kostum yang ngalahin hebohnya Inul Daratista. Seperti bisa dilihat di bawah, saya pakai baju warna abu-abu dan celana warna pink terang (ini sebenarnya kostum pernikahan teman dekat saya setahun lalu :)). Untuk sepatu, saya memakai sepatu sendal warna pink (saya beli waktu sale, 150ribu dua pasang di Sudirman City Walk) dengan tinggi nggak lebih dari 5 cm. Ketika semua sudah pas bernuansa pink, saya shock. OH! Saya nggak punya tas pesta pink. Wow. Untung dompet saya agak besar, berwarna pink dan dipenuhi benang-benang yang bergradasi silver. Baiklah, this one is quite nice and so much match to my dress! :)




How about the face-do?

Untuk wajah, saya mengandalkan foundation dan blush on.  Sebenarnya, it is a very basic make up. Foundation, bedak, blush on, eye shadow, eye liner, lipstik dan maskara. No shading, karena saya ngeri ngalahin gorgeusnya make up si pengantin :). Untuk mata, saya memakai eye shadow pink tua untuk bagian kelopak dan soft pink untuk highlight di bagian tulang mata. Simple aja, yang penting wajah saya 'mencrang'. Hehehe. Untuk bibir, saya masih memakai pesonanya warna pink, tapi the soft one, bukan yang terang karena I just want to keep it simple for an afternoon event. Next time, kalau acara pernikahan malam hari, I plan to use bloody-red one. Hehehe.


And partner?

Saya mengajak teman baik saya, Nova. Yak, saya menjalankan tips No. 3. Pacar boleh nggak punya, tapi, teman selalu stand right beside you anytime, kan?



Inilah pengantinnya!



Saya doakan untuk kelanggengan cinta dan kesetiaan diantara mereka berdua. Amin.

And guess what? I had an amazing day, that day. No worries :)

Well, harapan saya, posting ini berguna. Good day!