Panggilan 'mas' tampaknya sudah terlalu jamak digunakan oleh masyarakat sekitar saya, walaupun tidak semuanya bersuku Jawa. Yang orang Minang pun, salah satunya etek saya memanggil suaminya dengan sebutan 'mas'. Panggilan 'mas' juga membawa banyak nuansa menurut saya, mulai dari nuansa unggah-ungguh penghormatan sampai dengan nuansa romantis, dengan syarat disebutkan oleh seorang perempuan kepada laki-laki dalam suasana remang-remang *loh*. Tapi bisa juga membawa nuansa 'membesarkan hati', seperti kepada anak kecil supaya iya merasa dewasa dan diharapakan dapat bersikap dewasa.
Panggilan 'mas' dalam perkara sebuah penghormatan, menurut saya sangat lumrah. Biasanya, yang dipanggil 'mas' itu orang-orang yang lebih tua dari saya. Kakak sepupu laki-laki saya misalnya, saya panggil Mas Koko. Dan sebagainya.
Begitu juga panggilan 'mas' dalam konteks mesra. Saya pun rasanya kalau punya kekasih orang Jawa, akan ikut-ikutan memanggil dengan sebutan 'mas'.
Sedangkan penggunaan 'mas' untuk membesarkan hati biasanya saya lakukan kepada adik-adik sepupu ataupun anak-anak lain yang usianya lebih muda. Tapi kebanyakan juga karena terbawa panggilan dari rumah si anak. Jadi ikut-ikutan memanggil 'mas'.
Bagaimana dengan Mas Ibas dan Mas Agus?
Edhie Baskoro atau ngetop dengan panggilan Mas Ibas, anak bontot presiden yang sekarang kerap dipanggil 'mas' bukan hanya oleh mamanya, papanya atau kekasihnya, Aliya. Beberapa orang partainya pun kerap saya 'pergoki' memanggilnya dengan 'mas' dalam media cetak. Padahal orang-orang partai itu bisa sepuluh tahun sampai sepuluh tahun lebih tua usianya dari si Mas.
Anas Urbaningrum, melalui konfirmasi via Twitternya kepada saya, menyebutkan alasannya mengapa memanggil Edhie Baskoro dengan Mas Ibas. Sopan santun, katanya. Karena ia dilahirkan dari keluarga Jawa yang membiasakan memanggil siapapun, seumur atau lebih muda, dengan sebutan 'mas' untuk laki-laki dan 'mbak' untuk perempuan. Jujur saja, saya tergolong puas dengan jawabannya. Walaupun juga penasaran ingin 'menangkap basah' Pak Anas memanggil kolega lain dengan 'mas', seperti Mas Mumtaz Rais atau Mas Nazaruddin atau Mbak Puan atau Mbak Aliya atau malah Mas SBY. I'll see. Pak Anas boleh ngeles sebagai orang Jawa, tapi rupanya, Pak Ruhut yang Batak pun memanggi Edhie Baskoro dengan 'mas', bukan 'bang'. (lihat referensi)
Awalnya, saya pikir hanya Edhie Baskoro saja yang dipanggil 'mas'. Tapi rupanya Agus Harimurti juga dipanggil 'mas' oleh Jubir Presiden SBY, Julian Aldrin Pasha. (lihat referensi)
Saya setuju jika Pak Anas mengedepankan sopan santun. Memang negara ini sudah seharusnya penuh dengan manusia penuh santun dalam bertutur kata. Tapi saya menjadi sedikit terusik ketika saya ingat pengalaman lama saya, ketika saya masih SMA.
Saat SMA, saya punya seorang teman satu sekolah, biasa saya panggil Teteh, karena begitulah dia dipanggil di rumah. Ibu dari Teteh adalah guru Sejarah di sekolah kami, bernama Ibu Ihat. Ajaibnya, tidak seperti Pak Anas dan orang-orang dengan sopan santun lain, Ibu Ihat tidak pernah memanggil teman saya dengan 'teteh' di sekolah, kecuali bercanda dan itu sangat jarang. Dengan lempeng, beliau memanggil dengan menyebut nama, Lugina. Begitu juga dengan teman-teman sesama guru lain. Semua tidak memanggil 'teteh' ketika proses belajar-mengajar berlangsung.
Yang saya lihat dalam hal ini adalah soal profesionalisme. Saat itu, profesi Ibu Ihat adalah guru. Dan sebagai guru, beliau punya kewajiban untuk menyamakan kedudukan semua murid-muridnya, tanpa eksklusifitas, baik dari perkara nama panggilan, apalagi perkara nilai. Kalaulah beliau memanggi Lugina dengan 'teteh' di sekolah, maka konsekuensinya beliau harus juga memanggil saya dengan sebutan 'teteh', begitu juga dengan murid perempuan lainnya. Sekali beliau lalai, maka profesionalitasnya sebagai guru dipertaruhkan. Bukan tidak mungkin beberapa murid akan menggunjingkan perihal perbedaan 'kasta' ini.
Begitupun saya harapkan dilakukan oleh semua profesional politik . Semasa ada sebutan resmi, yaitu Bapak/Pak/Ibu, menurut saya akan lebih elegan dan profesional jika dipanggil demikian. Jangan sampai ada pihak yang menggunjingkan di belakang hanya karena cara memanggil, seperti yang sedang saya lakukan sekarang. Atau lebih pahit lagi, jangan sampai orang jadi capek-capek fitnah dengan asumsi bahwa Pak Anas dan bapak-bapak lain memang 'menganakemaskan' Agus Harimurti dan Edhie Baskoro. Apalagi sampai sekarang, belum satupun politikus 'tua' kepergok oleh saya memanggil Mumtaz Rais dan Hanafi Rais, anak-anak Amien Rais, dengan sebutan 'mas'. Padahal toh sama-sama Jawa dan sama-sama muda di politik.
Lagipula, 'Pak Edhie' walaupun berkesan sangat kolot tapi terdengar lebih berwibawa. 'Mas Ibas' terdengar lebih menye-menye dan hanya cocok dikatakan oleh Mbak Aliya yang imut-imut. Begitu juga 'Kapten Agus', terdengar lebih gagah, seperti Kopral Jono dalam lagu, ketimbang 'Mas Agus' yang berkesan terlalu mudah tertembak di kepala pada medan Lebanon.
Ya, tho, Mas?
(eits, saya kan lebih muda. Boleh dong, panggil 'mas'?)
Mohon maaf atas kedangkalan akal.
Senin, 23 Mei 2011
Minggu, 22 Mei 2011
Kenapa Menikah (harus) Mahal?
Saya akan mencoba jadi sosiolog hari ini. Entah kenapa tiba-tiba pada tengah malam saya terbangun ada satu hal yang mendorong saya untuk tidur lagi dan bangun di pagi hari dengan menjadi seorang Auguste Comte era milenia yang perempuan. *rasanya haru sedih mengingat gagal mengambil mata kuliah Sosiologi setelah mama saya mengernyitkan dahi mendengar kata 'sosiologi'*
Pernihakan.
Well, untuk seseorang di luar sana, jangan berpikir saya ingin cepat-cepat menikah karena (terus-terusan) membahas soal ini, ya. This is just a common thing arrived on a twenty-something year old woman.
Oke, kembali lagi soal pernikahan. Pertanyaan yang selalu bergema di dalam kepala saya adalah kenapa menikah (harus) mahal? Dan setelah berpikir sambil merasakan getaran-getaran mulas akibat ingin buang air, saya sepertinya punya beberapa poin buah pengamatan maya saya. Let me break down my thought.
Pertama adalah masalah pernikahan itu penting.
Ya. Bagi kebanyakan manusia di tempat saya tinggal, pernikahan itu suatu fase penting dalam kehidupan yang tidak mungkin dilewatkan dengan cara biasa. Belum lagi embel-embel 'mantu pertama kali', 'pernikahan anak pertama', 'pernikahan anak satu-satunya', dan hal-hal lain yang menambah kepentingan momen itu. Jadilah, sebagai sesuatu yang penting, ingin sekali rasanya merayakannya besar-besaran. Mungkin rasanya mirip perasaan anak lima belas tahun merayakan Valentine's Day bersama pacar pertamanya.
Kedua adalah masalah kerabat yang banyak.
Untuk masyarakat dengan pola kekeluargaan super kental seperti masyarakat di sekitar saya, kerabat bukanlah hanya sebatas saudara sekandung, ayah-ibu, sepupu-sepupu dan sahabat karib, tapi juga meliputi tetangga, sepupunya sepupu bahkan sampai teman sekolah yang saat sekolah dulu pun bahkan jarang kita sapa. Begitulah. Belum lagi dengan fasilitas media sosial via dunia maya sekarang, semua orang tiba-tiba jadi kerabat. Kerabat yang banyak dalam konteks hajatan sudah tentu berarti makanan yang banyak dan tempat yang luas. Makanan yang banyak dan tempat yang luas berarti biaya. Nah, bagaimana tidak pernikahan menjadi mahal kalau definisi kerabat ini sedemikian luasnya meliputi orang sekomplek perumahan sampai kawan dari TK sampai kuliah magister dua?
Ketiga adalah masalah ego.
Ego dalam hal ini saya persempit jadi keinginan atau cita-cita. Kebanyakan single, terutama perempuan, mempunyai banyak sekali keinginan yang harus (atau sebaiknya) terwujud saat hari pernikahan mereka. Gaun yang bagus, pelaminan indah, rentetan seserahan yang menawan, termasuk seragam yang diberikan untuk setiap geng yang dipunya pada setiap jenjang pendidikan berbeda. Belum lagi keinginan mendatangkan penyanyi favorit laki-laki yang menyanyikan lagu-lagu sendu yang romantis, membuat ingin mencintai si calon suami selama-lamanya. Dan dalam dunia peruangan ini, kadang mewujudkan dan mempertahankan ego sungguh butuh biaya besar.
Keempat adalah gengsi.
Eits, jangan marah. Gengsi ini bisa gengsi si orang yang akan menikah atau gengsi orangtuanya. Kenapa gengsi? Seperti saya bilang, pernikahan bagi masyarakat ini merupakan satu hal yang penting. Kalau sudah penting, mengundang banyak orang pula, inginnya ini menjadi hal yang terwujud sesempurna mungkin. Tidak ada cela dan 'sesuai' dengan si empunya hajat. Kalau sampai tercela, apalagi soal makanan habis, bisa malulah tujuh turunan. 'Sesuai' dengan si empunya hajat? Ya kan, enggak enak kalau acara pernikahan anak pengusaha beromzet triliunan rupiah 'hanya' diadakan di rumah bukan di ballroom hotel Mandarin Oriental.
Keempat hal diatas manusia menurut saya, apalagi bagi manusia yang memang makhluk sosial. Karena percaya deh, kalau menusia hidup sendirian, nggak akan muncul empat hal diatas secara sadar, apalagi tidak sadar, dalam kepala mereka. *Auguste Comte mode: ON*
Tapi, hendaknya empat hal diatas bisa direm, menurut saya. Kenapa? Karena tentu banyak hal yang lebih penting sebagai sasaran penghabisan biaya dan banyak hal yang perlu diprihatinkan ketika ingin mengeluarkan puluhan, bahkan ratusan juta dari kocek sendiri.
Sasaran Penghabisan Biaya.
Ratusan juga habis hanya untuk semalam-dua malam. Kalau memang punya uang sendiri sejumlah segitu, lebih baik beli rumah, daripada nanti mesti numpang sama orangtua atau malah mertua. Sudah punya rumah? Belilah mobil. Sudah punya mobil? Well, bagaimana dengan berbatang-batang emas murni? Atau liburan island hoppers ke berbagai kepulauan indah di Indonesia? Mau yang lebih mulia? Ajak anak-anak yatim ke Dufan. Atau ambil beberapa adik asuh dan sekolahkan sampai perguruan tinggi. Intinya, jangan sampai nila semalam rusak susu selamanya. Lho? Iya, maksud saya, jangan sampai semalam yang mewah sekali itu merusak hidup beberapa tahun kedepan. Banyak sekali kasus dimana pasangan menikah dengan mewah tapi selanjutnya masih hidup prihatin, belum bisa DP rumah, DP kendaraan, dan kesulitan-kesulitan lain. Banyak pos kosong lain yang perlu disediakan biayanya.
Hal yang Perlu Diprihatinkan
Kemiskinan, misalnya? Tetangga atau saudara yang kerap masih suka kelaparan atau kesulitan bayar uang sekolah anak-anaknya? Tukang ojek langganan yang suka kekurangan beras? Atau kalau mau lebih ekstrim lagi, nasip ratusan juta orang yang hidup dengan sebutan fakir miskin? Nah. Ini poin prihatinnya. Saya pernah menonton sebuah video pada Youtube, ditunjukkan oleh seorang teman yang waktu itu jadi gebetan *jadi deh, semangat nonton*. Di video itu diceritakan bagaimana kesenjangan sosial melanda sebuah negara bernama Indonesia. Dan fakta mencengangkannya, biaya sebuah pernikahan paket lengkap di Kartika Chandra (video buatan tahun 90 sekian, saat Kartika Chandra masih jadi primadona resepsi pernikahan) tidak akan pernah tertutupi bahkan ketika gaji seorang buruh pabrik selama hidupnya dikumpulkan jadi satu. Sedangkan si empunya hajat? Blar! Uangnya habis dalam semalam. Sedih, ya?
Di agama saya, berlebih-lebihan itu dosa. Di agama saya pula, sebuah pernikahan itu baiknya diadakan walimah atau pestanya. Kenapa? Tujuannya jelas, pertama adalah untuk mensyukuri sebuah prosesi yang suci dengan 'mentraktir' beberapa kerabat makan-makan dan kedua untuk memberitahukan ke masyarakat seluas-luasnya kalau si pasangan ini sudah resmi jadi suami-istri, jadi kiranya jangan digerebek kalau mereka berdua-duaan dalam gelap. Di Malaysia cukup menarik dan membantu usaha menyebar berita ini menjadi lebih simpel tanpa biaya, yaitu dengan cara diumumkan melalui speaker masjid di kediaman kedua pasang pengantin.
Intinya, use your money wisely. Karena hidup itu banyak keperluan dan kita harus pintar bikin prioritas supaya tidak kesusahan di kemudian hari. Selanjutnya, di atas langit memang masih ada langit, tapi di bawah tanah yang kita pijak masih ada lapisan lain. Kita boleh kaya dan masih banyak orang yang lebih kaya, yang mana nggak perlu kita sirikin. Tapi kita boleh kaya namun masih banyak orang yang hidup susah, yang mana perlu kita bantu. Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna bagi manusia lain, entah karena hartanya atau ilmunya atau tenaganya atau bahkan hanya karena senyum dan doanya.
Jadi,
(masihkah) menikah (harus) mahal?
Mohon maaf atas kedangkalan akal.
*suatu tempat di bagian selatan Jakarta.
Sayang,
Tita
Jumat, 20 Mei 2011
Aja Gampang Serik
Jarik itu kain. Entah itu bahasa Jawa atau apa, but simply the meaning of jarik is kain. Lebih spesifiknya, jarik adalah kain berukuran 2,5 x 1,1 meter yang dibatik dengan berbagai macam motif. Jarik sendiri ternyata merupakan akronim dari kata-kata dalam bahasa Jawa, aja gampang serik atau dalam bahasa Indonesia berarti jangan mudah iri. Fungsi utama jarik adalah sebagai penutup badan bagian bawah. Namun, sebagai selembar kain yang nyaman, jarik jadi memiliki fungsi lain, seperti selimut, alat menggendong bayi sampai yang paling horor, penutup badan orang yang meninggal. (lihat referensi)
Sebagai orang yang sudah jauh sekali dari peradaban asal jarik, yang saya tahu, sebuah jarik adalah kain pembungkus tubuh bagian bawah yang dililit sangat kencang, seperti rok model span, dibatik dan mempunyai beberapa rampel permanen untuk bagian depannya. Saya baru tahu kalau maknanya jauh lebih luas daripada itu.
Beberapa hari yang lalu, saya memakai jarik ke sebuah acara pernikahan. Jarik itu bebatik entah motif apa, warna coklat tua dan memiliki rampel untuk bagian depannya. Jarik yang saya pakai adalah fast jarik atau jarik super-siap pakai karena sudah dibentuk rok span dan diberi retsleting. Cara memakainya sangat mudah, seperti memakai rok konvensional.
Tapi, saya pernah juga memakai jarik untuk pesta pernikahan dengan cara yang super tradisional. Yang dibutukan adalah selembar jarik, sebuah stagen, seutas tali rapia, boleh juga tali sepatu dan long torso. Long torso ini bukan keharusan, sih. Saya hanya menambahkan saja, karena long torso membantu membuat tubuh lebih tegap dan singset, tentunya. Wah. Memakai jarik model begini benar-benar nggilani. Saking sesetnya, saya hanya sanggup memasukkan 3 potong somay dan beberapa teguk air putih ke dalam mulut. Betul-betul mencengkram perut. Efek di cermin memang canggih sih, badan jadi super singset macam Syahrini (silahkan protes). Tapi tetep, there is a price to pay. Hiks. Cara memakai stagennya saja sudah serem. Caranya, stagen diikat ke tiang rumah dan kemudian saya lilit ujung stagen ke perut saya. Cara ini efektif membuat stagen terlilit dengan kencang. Ya jelas. Patokannya adalah tiang rumah dari beton. Hua.
Ketika saya memakai jarik beberapa hari lalu, saya agak kagok berjalan sih. Kaki saya hanya mampu melangkah sedikit sekali, atau persis selebar kedua kaki saya jika disejajarkan dengan posisi depan-belakang. Jalan jadi pelan. Kalau mau cepat, harus berlari-lari unyu. Ribet! Tapi, di cermin terlihat fantastis. Macam sinden dari manaaa gitu.
Saat memakai jarik itu saya berpikir, banyak juga gunanya, selain bagi penampilan fisik perempuan, tapi juga bagi kematangan jiwa.
1. Penampilan Fisik
Seperti saya sudah bilang, dengan memakai jaring tubuh jadi singset. Apalagi yang berpantat aduhai. Wuih, makin jadi deh. Sintal. Berjalan juga jadi lebih anggun karena harus pelan-pelan, apalagi kalau ditambah high heels terbuka. Makin manis. Saya jamin deh, laki-laki bisa nengok dua kali bahkan lebih, walaupun belum tentu berani minta nomer telpon atau PIN BB.
2. Kematangan Jiwa
Memakai jarik berarti berjalan harus pelan. Berjalan pelan berarti butuh waktu lebih banyak. Ketika kita butuh waktu lebih banyak, maka kita dituntut bersiap lebih awal. Beda kalau pakai celana. Pakai jarik tidak bisa buru-buru. Harus direncanakan dengan baik. Kondangan jam 7 dan ingin pakai jarik? Artinya mulai mandi sejak jam setengah 5, kalau ingin berangkat ke tempat acara jam 6 tanpa perlu lari-lari dari kamar ke mobil. Kalau bisa jam 6 kurang 10 sudah duduk manis, siap diangkut. Ini kematangan jiwa pertama: disiplin dan teratur.
Karena harus berjalan lama, jarik menguji kesabaran saya. Saya harus berjalan pelan-pelan untuk sampai tujuan, kalau tidak mau keserimpet jarik dan jatuh terjungkal. Persis sekali semboyan kebanyakan suku Jawa, khususnya bagian tengah, alon alon asal kelakon. Pelan-pelan asal selamat. Dengan berjalan pelan pun, saya merasa lebih calm down, lebih bisa ambil napas dulu sebelum 'meledak'. Bagus buat anger management saya yang bersumbu super pendek. Kematangan jiwa kedua: sabar.
Secara keseluruhan, bagi saya kearifan tradisional itu banyak sekali manfaat dan mempunyai nilai makna tinggi. Seperti jarik ini, contohnya. Dan saya yakin masih banyak lagi dari suku-suku yang lainnya. Arti kata jarik sendiri saja sudah 'tinggi': jangan gampang iri.
Rasanya nggak berlebihan kembali ke kearifan tradisional. Yah, walaupun jarik memang nggak friendly sama sekali dengan kondisi transportasi dan akomodasi di Jakarta tapi boleh lah supaya sedikit anggun dan matang, pakai jarik di acara-acara resmi. Apalagi kalau kamu perempuan Jawa :) Malu ih, sama saya yang Jawa abal-abal. Cuma bisa ngomong 'asu'. Hahaha.
Mohon maaf atas kedangkalan akal.
Mengapa Hari Dirayakan
Hari ini tanggal 20 Mei. Well known, sebagai hari peringatan kebangkitan nasional. Konon karena merupakan tanggal berdirinya organisasi pemuda pertama Indonesia yg berbau-bau politik, Boedi Utomo. Kenapa dikatakan 'bangkit'? Wajar. Karena saat itu, pemerintah Hindia-Belanda demen sekali buat kita terpuruk sampai terjongkok-jongkok. Sehingga sekelompok pemuda merasa sudah waktunya inlander bangkit berdiri. Tidak cuma jongkok-jongkok lagi. Menjadi masyarakat madani yang bisa tiduran-jongkok-duduk-berdiri sendiri.
Selain Hari Kebangkitan Nasional, banyak hari-hari lain dirayakan. Dan banyak komentar orang-orang yang berceletuk: kenapa juga mesti dirayakan?
Saya pernah sih, mikir begitu. Tapi menurut saya yang sekarang, berpikir begitu hanya bikin saya jadi manusia skeptis. Dulu, bagi saya, ada beberapa 'hari' yang nggak penting tapi entah kenapa dirayakan. Hari Bumi, salah satunya. Dan Hari Lupus atau hari-hari penyakit lainnya. Ga penting. Itu dulu.
Sekarang, yang saya pikir adalah mengapa hari-hari tertentu dirayakan: karena tidak setiap hari manusia mampu mengingat hal-hal penting yang kecil namun berdampak super bagi hidupnya. Dan satu lagi, manusia pada prinsipnya suka hal-hal seremonial. Makin dirayakan, makin sip.
Dibalik sebuah perayaan terhadap hari, ada makna besar yang, tentunya, sulit dijangkau otak kalau kurang informasi. Tapi secara simpel, sebuah hari dirayakan untuk kembali mengingatkan manusia akan beberapa hal. Hari Lupus mengingatkan manusia kalau ada penyakit bernama unyu, Lupus dan ruam berbentuk kupu-kupu yang disebut butterfly effect merupakan salah satu tandanya. Atau hari bersejarah. Seperti Hari Kebangkitan Nasional ini. Dengan dirayakan, manusia Indonesia jadi kenal/kembali kenal dengan organisasi Budi Oetomo, dengan nama asli Ki Hajar Dewantoro, dengan fakta bahwa ditengah keterpurukan parah, pribumi Indonesia pernah dengan semangat bangkit melawan pihak yang demennya mlenet hak-hak mereka.
Efeknya, merayakan hari menjadi satu hal efektif untuk melawan lupa. Penyakit umum yang jamak dialami kebanyakan manusia.
Bisa jadi, untuk memberantas penyakit lupa terhadap beberapa hal menggantung, baiknya dirayakan harinya. Misal, hari pertama pembahasan kasus Century di DPR dijadikan Hari Kasus Century.
Nice, gak?
Mohon maaf atas kedangkalan akal.
Selain Hari Kebangkitan Nasional, banyak hari-hari lain dirayakan. Dan banyak komentar orang-orang yang berceletuk: kenapa juga mesti dirayakan?
Saya pernah sih, mikir begitu. Tapi menurut saya yang sekarang, berpikir begitu hanya bikin saya jadi manusia skeptis. Dulu, bagi saya, ada beberapa 'hari' yang nggak penting tapi entah kenapa dirayakan. Hari Bumi, salah satunya. Dan Hari Lupus atau hari-hari penyakit lainnya. Ga penting. Itu dulu.
Sekarang, yang saya pikir adalah mengapa hari-hari tertentu dirayakan: karena tidak setiap hari manusia mampu mengingat hal-hal penting yang kecil namun berdampak super bagi hidupnya. Dan satu lagi, manusia pada prinsipnya suka hal-hal seremonial. Makin dirayakan, makin sip.
Dibalik sebuah perayaan terhadap hari, ada makna besar yang, tentunya, sulit dijangkau otak kalau kurang informasi. Tapi secara simpel, sebuah hari dirayakan untuk kembali mengingatkan manusia akan beberapa hal. Hari Lupus mengingatkan manusia kalau ada penyakit bernama unyu, Lupus dan ruam berbentuk kupu-kupu yang disebut butterfly effect merupakan salah satu tandanya. Atau hari bersejarah. Seperti Hari Kebangkitan Nasional ini. Dengan dirayakan, manusia Indonesia jadi kenal/kembali kenal dengan organisasi Budi Oetomo, dengan nama asli Ki Hajar Dewantoro, dengan fakta bahwa ditengah keterpurukan parah, pribumi Indonesia pernah dengan semangat bangkit melawan pihak yang demennya mlenet hak-hak mereka.
Efeknya, merayakan hari menjadi satu hal efektif untuk melawan lupa. Penyakit umum yang jamak dialami kebanyakan manusia.
Bisa jadi, untuk memberantas penyakit lupa terhadap beberapa hal menggantung, baiknya dirayakan harinya. Misal, hari pertama pembahasan kasus Century di DPR dijadikan Hari Kasus Century.
Nice, gak?
Mohon maaf atas kedangkalan akal.
Sabtu, 14 Mei 2011
Menjadi Perempuan
Saya suka sekali dengan Shanty.
Iya, Shanty yang artis itu. Suka bukan dalam arti ngefans berat, tapi saya menjadikannya salah satu contoh bagaimana menjadi perempuan.
Sebagai seorang individu yang lumayan berpendidikan (ya, jenjang S1 sekarang tampak lumayan mengingat banyak lulusan S2, entah betulan atau oplosan), saya paham betul apa yang wajib saya lakukan sebagai perempuan. Baik hal-hal yang muncul dalam kepala berdasarkan keinginan dan keyakinan diri sendiri, maupun hal-hal yang di 'doktrin' lingkungan saya melalui norma-norma.
Sebagai perempuan, saya sebaiknya memasak. Sebaiknya bisa hamil. Sebaiknya bisa mengurusi anak-anak. Sebaiknya bisa mengatur uang dan banyak hal 'sebaiknya' lainnya, termasuk tuntutan beberapa laki-laki bahwa perempuan sebaiknya jadi ibu rumah tangga.
Saya pernah merasakan menjadi perempuan yang super. Super bagaimana? Ya, super. Hampir semua hal bisa saya kerjakan sendiri. Mulai dari mencari uang sampai menyetir mobil. Saya terbiasa berangkat pagi dan pulang sangat larut malam dengan kedua kaki saya sendiri. Bung Karno pasti bangga, karena saya Berdikari. Tidak ada istilah diantar pulang, dijemput berangkat kerja, dan hal-hal princess lainnya. Bahkan ketika sakit pun, saya bisa menempuh jarak Kuningan-Ciputat seorang diri saja. Tidak merengek pada siapapun. Ya, mengeluh sedikit mungkin, entah via BBM atau Twitter. But deep down inside, I indeed could do those things by myself.
Kondisi diatas memaksa otak saya berpikir bahwa saya baik-baik saja sendirian. Dan saya baik-baik saja mengerjakan semua hal ini, mulai dari bekerja giat hingga larut sampai bepergian dari pagi sampai malam, sendirian. Saya merasa ini hidup saya. Hidup yang sungguh menyenangkan. Karena saya merasa mandiri. Sebagai perempuan, merasa mandiri membuat saya powerful. Saya pun enggan meninggalkan gua ini. Saya nyaman disini.
Tapi ketika membuka mata lebar pada sekeliling, ternyata banyak aspek dan unsur dari gua saya yang tidak sesuai dengan pikiran kebanyakan orang, terutama laki-laki. Saya harus peduli. Karena laki-laki tempat asal tulang rusuk saya. Rasanya terlalu kurang ajar kalau tidak mengindahkan keberadaan mereka. Saya berhutang sebuah tulang rusuk.
Ketika nanti menikah dan saya masih bekerja dari pagi hingga pagi lagi, apakah itu baik? Apakah itu masih menjadikan saya seorang perempuan yang baik? Saya khawatir. Walaupun di satu sisi, saya sebenarnya kurang rela. Haruskah melepaskan hal-hal yang menjadi hasil jerih payah saya?
Lalu saya melihat Shanty.
Yang saya tahu, dia mati-matian memperjuangkan karirnya, mulai dari menjadi penari, VJ MTV sampai akhirnya bisa benar-benar jadi penyanyi. Hal ini diperjuangkannya berbelas-belas tahun. Bukan waktu yang sebentar. Dan ketika dia sampai pada cita-citanya, dia menikah. Lalu pergi ke Hongkong. Karirnya? Dipasrahkan, mungkin ya. Artinya, digeser dulu skala prioritasnya.
Kemudian saya merasa berlega hati. Sebagai perempuan, mungkin hidup saya 70 persen adalah pengorbanan. Tapi itulah menjadi perempuan. Esensinya. Tinggal kita pandai-pandai pilih laki-laki. Laki-laki yang bisa membelikan sepasang Manolo tanpa perlu kita bekerja? *biggrin*
Mohon maaf atas kedangkalan akal.
Langganan:
Postingan (Atom)
