Kamis, 12 Mei 2011

Dua Rindu Merah Jambu

Malam ini langit tidak bisa dibilang hitam. Tidak bisa dibilang biru gelap. Abu-abu gelap? Ah. Mari mendeskripsikannya sebagai warna-tak-terkatakan. Lebih adil untuk langit. Lebih manusiawi untuk kita. Berhenti sok tahu.

Dalam malam dengan warna-tak-terkatakan itu, dua rindu merah jambu menggantung manis pada seonggok hati yang belum terdetoksifikasi. Masih penuh racun-racunmu. Mungkin harus kurendam kaki dalam air garam dimana ion positif dan ion negatif dapat bertemu. Supaya hatiku bersih. Dari kamu.

Pasti bukan kali ini kubacakan gerombolan kata-kata yang menurut orang awam hanya serombongan kegombalan. Aku tidak pernah bilang akan mencintaimu sampai mati, toh? Seperti Bang Iwan Fals bilang: hanya mampu katakan aku cinta kau saat ini. Entah esok hari. Entah lusa nanti. Begitupun aku adanya. Dua rindu merah jambu menggantungiku malam ini. Tak janji hal serupa akan ada esok hari atau bulan depan.

Yang aku pedulikan adalah malam ini.

Tiba-tiba bayangan tubuhmu datang tanpa mengetuk pintu. Ujug-ujug, kalau kata pembantuku. Tiba-tiba muncul. Tapi aku tidak kaget. Seperti aku sudah tahu bayangan kamu akan datang, kapan saja kamu mau. Persis seperti pemilik bayangannya. Itu sudah menjadi ritualmu. Ciri khasmu. Aku hapal betul. Seperti Aman Sembiring hapal betul setiap kata dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Telapak tangan. Yang bahkan lebih halus dari telapak tanganku. Aku selalu penasaran, apakah kelingkingmu sebesar jari manisku? Jika iya, kita berjodoh. Benar-benar akan rutin kukunjungi pengajian di Paramadina. Coba kamu balikkan telapak tangan. Beberapa bekas luka. Dan pergelangan tangan tak bertuan. Tali jam tangannya putus, katamu. Tapi aku suka. Makin tak bertuan. Makin pergelangan dan telapak itu bisa kukenai hak kepemilikan tertinggi. Tidak rebutan dengan jam tangan apapun.

Rindu merah jambuku yang pertama.

Kulit. Yang bahkan lebih putih dari kulitku. Iya! Memalukan memang. Walaupun berulang kali kamu bilang ingin lebih hitam supaya tampak lebih Indonesia, mataku tetap menari-nari dalam rak-rak produk kecantikan di supermarket, mencari pelembap yang memutihkan. Ah. Favoritku adalah kulit muka di sekitar mata yang selalu berkerut hebat ketika tertawa. Juga kulit di pipi yang ditumbuhi beberapa helai bulu-bulu aneh yang berjarak berjauhan, memancing tangan mengambil pinset dan mencabutinya. Gemas! Tahukah? Aku pakai krim malam ini supaya suatu saat nanti tidak terlalu hitam-putih saat kita berfoto bersama. Suatu saat nanti.

Rindu merah jambuku yang kedua.

Tiga bulan terasa sudah seperti beberapa tahun. Walaupun bukan jam tangan baru, tapi pergelangan tangan sudah tidak lagi tak bertuan. Kamu punya gelang baru. Kulit juga semakin menghitam. Siapa dan apa. Bertemu seseorang dan sering berjalan kaki keluar di siang hari berdua sajakah?

tita,
ketika ujung hidung digigit nyamuk

Baju Pertama!

Kurang lebih seminggu belakangan, saya mulai bermain-main dengan mesin jahit Jerome hadiah dari Mama.

Setelah sebuah bed cover, saya came out dengan sebuah ide mengenai sebuah model baju dan 'terpaksa' mengorbankan salah satu sarung Papa karena bakal mubazir kalau beli bahan baru tapi hasilnya... gagal. Hahaha.

Hasilnya...

Sila melihat!






Me, personally, like it :)

Gimana menurut kalian?

Selasa, 10 Mei 2011

Mindset Itu Tentang Apa Yang Di-Set Oleh Mind


Tampak bukan solusi, ya, judul saya?

Memang bukan solusi. Saya nggak mau sok tahu dan sok hebat menjanjikan solusi. Saya lebih senang dibilang sebagai pemberi ide. Atau pemuncul ide yang sebenarnya sudah ada dalam kepala tapi terlupakan entah karena apa.

Mindset. Apa sih? Itu bahasa Inggris, sih. Lalu apa istilahnya dalam bahasa Indonesia? Saya, entah kenapa, mempunyai perasaan sangat kuat kalau mindset dalam bahasa Indonesia artinya adalah 'pola pikir'.

Pola pikir. Apa itu? Dalam ruang imajinasi saya yang saya duga tidak hanya menguasai otak kanan tapi juga otak sebelah kiri, pola pikir berarti pattern ajeg yang menuntun kita untuk berpikir. Pola pikir akan bersahabat karib dengan 'sudut pandang'. Setiap pola pikir tergantung pada sudut pandang dan setiap sudut pandang akan mempengaruhi pola pikir.

Sudahlah, sok tahunya.

Kenapa sih saya tiba-tiba berpikir tentang 'pola pikir'? Sebenarnya hal ini pasti pernah terlintas dalam kepala saya, cuma saya lupa kapan waktunya. Dan baru-baru ini, pikiran itu muncul lagi. Fokus dan tesis saya kali ini adalah:

Betapa emosi itu sangat bergantung dengan pola pikir. Tergantung pada mindset. Tergantung pada apa yang disetting dalam pikiran kita.

Sok tahu? Well, kali ini adalah pengalaman pribadi. Jadi tipe penelitian saya kali ini sangat empiris.

Begini,
Adik kandung perempuan saya akan menikah bulan Juli. Saat saya belum menikah. Inilah kondisinya. Satu kondisi yang (ternyata) memancing emosi beragam dari beberapa pihak. Yang saya yakin, dilatarbelakangi kuat oleh pola pikir.

Saya. Saya orang yang simpel. Dan agak ajeg. Jika saya berpikir melakukan A maka hasilnya adalah B, maka itulah yang akan terus bercokol lama dalam kepala saya. Saya jarang berpikir negatif, mungkin karena saya cuek. Dan saya lumayan optimis. Ditularkan dengan sangat baik oleh mama dan papa saya.

Maka, ketika saya harus 'dilangkahi' adik saya menikah duluan, saya tidak merasakan kekhawatiran apapun. Tidak secuil pun. Rasa 'tidak mau' pun tidak ada. Saya betul-betul santai menanggapinya. Karena bagi saya itu hal super biasa. Tidak ada yang heboh. Dilangkahi atau menikah duluan, sama sekali bukan urusan fundamental dalam hidup saya. Saya yakin, ini karena saya dikuasai pola pikir simpel tadi, sehingga saya tidak merasakan emosi berlebihan mengenai hal ini.

Dan saya menjadi lumayan terkejut, ketika ternyata, mengenai hal ini, saya menemukan tanggapan yang berbeda-beda. Mulai dari mama saya, tante-tante saya, bahkan teman-teman seusia saya.

Mama saya ternyata sampai menangis-nangis cerita pada adik iparnya. Tidak tega sebenarnya, kata dia.

Tante saya pun demikian. Merasa sedikit ngilu hatinya, katanya. Beberapa malah (saya rasa) menatap saya dengan takjub dan tidak henti memeluk saya.

Beberapa teman saya kaget dan memuji saya 'sangat baik' walaupun ada juga yang bertanya 'kok mau?'.

Saya tidak menyalahkan pola pikir mereka. Karena sepertinya, tidak pernah ada yang salah dengan cara berpikir orang. Tapi kembali ke bait diatas, mereka hanya memiliki pola pikir yang berbeda dengan saya. Bahkan ketika usia dan latar belakang pendidikan sudah sama pun, tidak menjamin cara berpikir akan sama.

Pada akhirnya, kedua telinga saya memang harus lebih banyak mendengar. Supaya hati saya lebih peka dengan orang-orang yang punya pola pikir lebih rumit dari punya saya. Dalam kondisi sekarang, saya harus lebih peka dengan Mama saya. Karena ternyata, keputusan ini bukan sekedar keputusan yang mengakibatkan beliau harus keluar uang berpuluh-puluh juta dan melepas salah satu anak gadisnya, tapi beliau juga mau tidak mau terbebani dengan perasaan 'tidak-enaknya' kepada saya. Bagi saya mungkin ini super sepele. Namun tidak buat beliau. Itulah mengapa saya butuh empati. Supaya bisa menyelami perasaannya dan menyesuaikan diri. Tidak hanya untuk keadaan satu ini.

Pola pikir memang berbeda. Tapi selalu ada waktu untuk empati. Toleransi. Tepa selira. Dan istilah manis lainnya, yang dapat dengan mudah kalian temukan dalam buku Pendidikan Moral Pancasila Kelas V SD Kurikulum 1994.

Tita. Sambil nonton Opera van Java.

*mohon maaf atas kedangkalan akal.

Senin, 09 Mei 2011

Taurus Betina Berulang Tahun


Bulan ini dan sedikit bulan kemarin menjadi bulan menyenangkan bagi banyak Taurus. Mereka berulangtahun! Dan (mostly) merasa berulangtahun.

Hari ini seorang Taurus betina kenalan saya, bermata kecil dan berkulit agak kuning gading, berulang tahun. Jujur saja, saya tidak tahu persis yang ke berapa si Chinese manis ini mengulang tahun hidupnya. Seharusnya dia seusia saya, karena kami seangkatan. Tapi bisa saja dia seperti ras Mongoloid di Indonesia kebanyakan, berotak super excellent dan mengambil dua kali kelas akselerasi waktu sekolah menengah. Bisa saja. Walaupun saya super sangsi :)

Seperti seorang Taurus kebanyakan, teman manis saya ini mengandalkan kekeraskepalaannya. Wow. Bagai seekor banteng betina, si manis seperti enggan menumpulan tanduknya. Matador manapun bisa diseruduknya. Walaupun si matador menjanjikan cinta. Eaa. Mudah-mudahan dia tidak muntah saat membaca paragraf ini. Saya sedang haid hari kedua, so, mellow is my middle name. Dan mellow adalah selalu tentang cinta, kan?

Saya mengenal beberapa Taurus, dan beberapa diantaranya menyenangkan, termasuk si manis ini. Super menyenangkan. Saya ingat bagaimana mata kecilnya akan semakin mengecil saat dia bercerita dan tertawa yang tak lupa selalu terselip makian yang entah mengapa tidak pernah terdengar tidak sopan di telinga saya. Jemari gemuk-pendek berkuteks dengan warna yang selalu saya irikan, sering sekali disibukkan oleh sebatang rokok bermerek luar berwarna kemasan emas-putih. Rokok kesukaan Taurus kenalan saya yang lain. Si manis selalu melontarkan ucapan yang memancing saya tertawa, atau memancing saya makin enggan mengurangi kebiasaan mengucapkan kata 'taik'. Ahaha. Makian sungguh melegakan.

Saya lumayan sering berbagi cerita, karena seperti kebanyakan Taurus, si manis adalah pendengar yang baik. Kapanpun itu. Entah di sela-sela audit. Entah di suasana romantis malam Menara Rajawali. Entah di pinggiran jalan Lingkar Mega Kuningan yang dihiasi lampu taksi penanda merek vacant. Beberapa cerita saya sama dengan si manis. Dia pun kerap membantu saya menyelami isi kepala Taurus yang laki-laki yang entah kepalanya dibuat dari apa. Cerita dengannya membuat saya bisa menangis lalu memaki-maki lalu kemudian ditutup dengan ketawa ketiwi menertawakan yang belum tentu lucu.

Dearest Marcella Maya,
Si manis yang daritadi saya ceritakan,
Selamat ulangtahun.
Saya harap kamu tetap keras kepala karena pasti itu daya tarik utama yang buat laki-laki kesengsem dan kelojotan.
Saya doakan kamu selalu bisa ketawa ketiwi menertawakan apapun, sampai seluruh mata kecil tertutup dan hanya menyisakan garis-garis di tepinya.

Ah. Banyak sekali yang ingin saya bilang. Tapi kebanyakan rahasia :) Saya tutup dengan doa sapujagad: wish you all the best.

Semoga kamu suka kadonya. Ucapan selamat ulangtahun yang panjang. Saya rasa ini hal terbaik yang bisa dilakukan seorang pengangguran yang kesepian dan kehabisan uang tabungan *ketawaketiwi*.

All the love in the world,
Tita

PS: we are consider to be compatible to each other, Mae. Scorpio and Taurus :) Ohya, saya pamit comot foto kamu dari Fesbuk ;)

Minggu, 08 Mei 2011

Berapa Gaji Kamu?

Bagi saya, itu adalah pertanyaan kurang sopan nomor satu untuk ditanyakan oleh seseorang ke orang lain. Kecuali dalam konteks untuk menggali informasi mengenai suatu jenis pekerjaan. Itupun akan lebih sopan jika pertanyaan diarahkan kepada hal yang lebih umum, seperti: berapa sih, standarnya kalau fresh graduate di oil company kaya tempat lo? Well, itu lebih sopan.

Ah.

Saya kolot barangkali. Tapi buat saya pribadi, pertanyaan itu adalah pertanyaan yang paling tidak akan saya tanyakan. Kalaupun ingin memperoleh informasi, saya akan lebih cenderung menanyakan mengenai berapa kira-kira saya akan dibayar untuk jenis pekerjaan tertentu pada level tertentu.

Kenapa saya sekolot ini?

Bagi saya, pertanyaan 'berapa gaji kamu?' merupakan pertanyaan yang menyesatkan. Loh? Iya. Entah persepsi saya benar atau salah, tapi bagi saya itu sungguh pertanyaan menyesatkan. Karena pertanyaan itu akan membawa seseorang kepada kemungkinan-kemungkinan yang tidak begitu mengenakkan. Saya akan coba ceritakan.

Kemungkinan pertama.
A : Berapa gaji lo?
B : 10 juta
A : Wah! Gede banget?
B : Iya. Dan tiap tahun gue naik 20 persen dan bonus gue bisa sepuluh kali gaji.

Sombong. Yap. Ujung-ujungnya secara di bawah alam sadar, saya mungkin akan menyombongkan diri sendiri betapa saya dibayar mahal dan dengan demikian saya pantas digolongkan ke dalam kelompok sosial masyarakat kelas menengah ke atas. Buat lawan bicara yang tidak peka atau cuek, saya akan aman. Tapi kalau lawan bicara saya sensi? Bah. Bisa habis saya diomongin di belakang dan jadi topik obrolan seru dengan teman-temannya. Obrolan yang kurang enak biasanya.

Kemungkinan kedua.
A : Berapa gaji lo?
B : Ah, biasa aja...
A : Berapa sih, emangnya?
B : 10 juta
A : Gila! Kecil gimanaa..

(Tetap) Sombong. Tapi dengan cara yang keren disebut dengan istilah: merendahkan untuk meninggikan. Menjawab dengan cara seperti ini akan membuat saya dicap sama tidak enaknya dengan menjawab dengan jawaban diatas. Bahkan beberapa orang mungkin akan menganggap saya super annoying karena berlagak bak malaikat merendahkan diri padahal ujung-ujungnya minta dipuji. Hah. Susah.

Kemungkinan ketiga.
A : Berapa gaji lo?
B : Sebulan take home 10 juta lah.
A : Wah, enak banget!
B : Iya, tapi lo ga sempet main-main, lembur melulu, mana senior gue galak-galak, bla bla bla

Hayo. Jatohnya jadi rumpiin orang. Lebih gawat kalau ditambah bumbu penyedap biar lebih dramatis. Selain menyebabkan orang kasihan dan sukses menghindari saya dari cap 'sombong' tapi secara tidak sadar saya sedang mensugesti orang untuk tidak mengambil pekerjaan seperti saya atau pekerjaan di tempat saya bekerja. Baru awal pembicaraan tentang pekerjaan saja sudah hal-hal jelek keluar dari mulut. Ya lembur, lah. Ya atasan galak, lah. Yang ada saya mungkin membuat orang jadi antipati dengan pekerjaan saya, walaupun awalnya mungkin dia sangat antusias.

Itulah kemungkinan-kemungkinan yang saya baru tahu berdasarkan pengalaman diri sendiri. Dan menurut saya percakapan serupa kerap terjadi dengan model yang sama hanya ada beberapa jenis variasi dan bumbu-bumbu kata yang tentu berbeda-beda. Intinya adalah sama: membicarakan masalah gaji. Hukum yang berlaku adalah yang merasa bergaji besar cenderung melakukan percakapan salah satu dari diatas. Lebih membuat ilfil jika hal serupa dibahas dalam forum-forum atau social media di internet seperti, Twitter. Lalu tersebar luaslah ke seantero masyarakat. Jadilah Sabang sampai Merauke pun tahu. Dapat dipastikan yang mengkasak-kusuki saya di belakang saya pun akan makin banyak atau ya adaa aja.

Itulah mengapa saya bilang menyesatkan.

Saran saya sih, nggak usah lah tanya-tanya soal itu. Karena sebagai pendengar, kamu pun mungkin akan cepat gondok. Apalagi buat orang-orang bersumbu pendek.

Mohon maaf atas kedangkalan akal :)