Senin, 30 Mei 2011

About One Fine Sunday





Here comes a fine Sunday! :)

Heart,

Tita

Sabtu, 28 Mei 2011

Born This Way dengan Sensor

Gimana? Gambarnya perlu disensor, nggak?


Tahu lagu Born This Way-nya Lady Gaga? Seorang teman muda kekeuh memperkenalkan kepada saya lagu ini, bahkan membacakan liriknya di depan saya via browser ponsel pintarnya. Saya jadi suka. Betul kata teman saya, lirik lagu itu sangat kuat dan insipiratif. Positif. Walaupun ada bait yang menarik, karena pasti mengundang kontroversi di beberapa sudut benua. Perhatikan baitnya:

No matter gay, straight, or bi,
Lesbian, transgendered life
I'm on the right track baby
I was born to survive

Dalam lagu, Gaga berusaha mengedepankan bahwa apapun kita, gimanapun wujud kita, we all were born this way by the creation of the perfect H.I.M. Dengan gamblang Gaga menyebutkan tidak ada yang salah dengan ciptaan Tuhan, termasuk manjadi lesbian ataupun kaum transjender.

Seorang teman yang bercita-cita akan tegaknya Hak Asasi Manusia pun tidak setuju jika masih ada manusia yang memicingkan mata terhadap kaum diatas. Homoseksual dan transjender merupakan kelompok yang berbasis sama dengan manusia lain, sama-sama manusia, dan punya hak asasi yang tidak berbeda sama sekali. Karena dalam pengertian HAM yang sebenar-benarnya, tidak ada pengecualian. Kalaupun ingin menyebut homoseksual dan transjender sebagai penyakit, pertanyaan selanjutnya adalah apakah mereka ingin disembuhkan? Karena kasusnya akan sama dengan penderita penyakit lain, buta misalnya. Apakah dengan dia tidak mau didonor mata sehingga akan tetap buta, maka berkurang unsur dirinya sebagai manusia? Kan, tidak. Hak asasinya tetap harus ada, sepanjang belum menjadi berkaki empat, bertanduk, bermoncong dan berbulu lebat.

Saya setuju dengan itu.

Lalu, saya tertarik dengan serial remaja, Glee. Dalam serial itu, diceritakan salah satu tokonya adalah seorang homoseksual. Reaksi saya kali ini berbeda. Saya tidak bisa sepenuhnya setuju seperti kasus di atas. Ini kasus khusus menurut saya. Apalagi mengingat pasar serial Glee adalah remaja di bawah usia cakap menurut UU Perkawinan, salah satunya adik bontot saya yang baru 12 tahun dan adik sepupu saya yang baru 15 tahun.

Bagi saya, semua yang dijabarkan Gaga dalam Born This Way sama sekali tidak masalah. Bahkan itu sangat bagus untuk membentuk imej yang baik bagi kaum-kaum tertentu yang secara sosial sering terlanjur dicap tidak baik oleh komunitas. Saya pun tidak keberatan jika para homoseksual dan transjender ini muncul terang-terangan di muka publik atau bahkan ada di televisi.

Satu yang saya harapkan bisa dilakukan: penyensoran atas hal-hal tersebut bagi anak-anak.

Anak-anak termasuk ke dalam golongan kelompok 'ringkih' sehingga dibutuhkan perlindungan khusus terhadapnya, dapat dilihat dari bagaimana sebuah undang-undang khusus anak-anak dibuat di Indonesia. Bahkan ada komisinya. Mengapa ringkih? Karena mereka, secara psikologis, sedang berada dalam tahap perkembangan pola pikir dan mempunyai daya absorpsi tinggi tanpa saringan. Belum lagi gejolak hormonal yang memicu kelabilan. Atau ditambah dengan kecenderungan mereka untuk mengikuti tren. Karena hal-hal diatas dan banyak hal lain yang diluar jangkauan pengetahuan saya, anak-anak perlu dilindungi. Perlu ada sensor mengenai kelompok masyarakat tertentu sebelum suatu hal disuguhkan di hadapan anak-anak. Bagi saya, suguhkanlah anak-anak dengan hal-hal yang sifatnya standar, berlaku sangat umum dan general. Saat dewasa dan sudah matang berpikir, mereka akan sudah punya dasar yang kuat dan mampu menelaah lebih jauh isu-isu yang beredar di sekitarnya.

Sangat tidak lucu, menurut saya, kalau seorang ABG laki-laki yang kemayu malah terdorong untuk menyatakan diri homoseksual, karena kebanyakan nonton Glee, bukan karena panggilan jiwanya sendiri. Padahal, sepuluh tahun kemudian, si anak jadi tentara gagah dan beranak lima. Masih bagus dia masih bisa kembali ke keinginan asasinya. Bagaimana kalau terjebak selamanya dalam mindset pergaulan?

Pendapat serupa juga saya tujukan untuk isu pornografi. Anak-anak jangan kena pornografi. Kalau sudah cukup umur, ya, mau gimana lagi :)

Saya setuju dengan lirik Born This Way. Tapi, Born This Way dengan sensor.


Mohon maaf atas kedangkalan akal.

Jumat, 27 Mei 2011

Perempuan Secara Sosial

Siapa yang perempuan secara sosial?


I have ever promised to my self that I would post on my blog at least 1 post per two days. Tapi janji tinggal janji. Untungnya ada si ponsel pintar, jadi saya bisa simpan beberapa ide saya untuk blog di waktu-waktu dimana kurang mungkin buat saya untuk blogging.

Hari ini, saya menjalani salah satu rutinitas pengangguran, yaitu menjalani proses rekrutmen pada sebuah perusahaan. Dan hari ini saya merasa mati rasa. Tidak ada rasa deg-degan atau khawatir. Biasa saja. Seperti ritual bangun pagi.

Proses rekrutmen dan tetek bengeknya berjalan dengan lumayan lancar. Saya keluar gedung sekitar pukul tujuh kurang pada malam hari. Jalanan di luar gedung sudah dipadati kendaraan para commuter dari Jakarta maupun kota-kota penyangganya. Ah. Artinya lebih banyak menginjak kopling dan mempertahankan setengah injakan pada kopling dan gas. Fernando pun pasti capek.

Sepanjang jalan saya habiskan dengan berpikir. Sampai-sampai pada tol saya hampir memakan setengah jalur tengah, padahal harusnya saya di jalur paling kiri. Tersadar karena diklakson Avanza yang datang dari arah belakang.

Pikiran saya agak filosofis, karena mengandung hal membingungkan. Ya, pemahaman saya soal filosofis memang salah satunya berciri 'membingungkan' diri saya. Saya berpikir:

Apakah perempuan akan menjadi perempuan secara sosial ketika dikelilingnya tidak ada lagi laki-laki atau ketika si perempuan tidak sedang bersama seorang lelaki pun?

Pertanyaan ini muncul di tengah pemikiran saya soal pekerjaan. Beberapa post saya pada blog di waktu-waktu lalu menceritakan mengenai pekerjaan yang membuat perempuan kurang perempuan-wi, salah satunya pekerjaan lama saya. Pekerjaan yang menyita hampir seluruh waktu dan seluruh isi pikiran saya. Tidak ada tempat untuk laki-laki. Padahal, egoisnya laki-laki mereka selalu ingin punya posisi terdepan dalam hidup seorang perempuan yang mengaku menyukainya. Pekerjaan lama saya merusak citra saya biarpun mati-matian saya bilang suka.

Anyway, saya menyadari itu benar. Sebagai perempuan tidak seharusnya saya mendahulukan pekerjaan dibandingkan dengan hal-hal lain yang sifatnya udah-dari-sononya bagi saya, seorang perempuan. Seperti, memasak, mengurus rumah, hamil, mengurus anak, mengurus keuangan rumah, dan lain sebagainya. Membiarkan diri terlalu larut pada urusan yang bukan 'tugas pokok' berdampak pada terlupanya tugas pokok tadi. Dan bisa didemo laki-laki (baca: kebanyakan laki-laki).

Itulah mengapa saya jadi pengangguran sekarang. Mencoba mencari pekerjaan yang lebih perempuan-wi. Lebih luwes jamnya dan lebih bersahabat permasalahannya. Sehingga saya bisa tetap fokus pada hal-hal udah-dari-sononya perempuan.

Tapi kemudian saya berpikir, kenapa saya harus sengotot itu mempertimbangkan hal-hal yang udah-dari-sononya itu? Kenapa saya sibuk memikirkan kodrat saya sebagai perempuan? Toh, tidak ada laki-laki yang harus saya urus dan tidak ada anak yang harus saya perhatikan.

Kemudian muncul lah pertanyaan tadi. Secara sosial, ketika saya sedang sendiri (oke, jomblo dan tidak menikah, maksudnya), apakah saya masih bisa dikatakan perempuan?

Secara fisik maupun biologis, membedakan manusia yang perempuan dan manusia yang laki-laki sangat mudah. Lebih mudah dari membedakan mana kecoak yang perempuan dan mana yang laki-laki. Tanda-tanda fisik jelas terlihat dan bisa beratus halaman kalau mau dijabarkan perbedaannya, dari yang kasat mata sampai persoalan kromoson yang sungguh sangat tingkat dewa pemahamannya. Dengan memiliki ciri fisik dan biologis sebagai perempuan, seperti payudara dan kromosom X, seseorang dapat dengan mudah dikatakan 'perempuan'.

Lalu, bagaimana secara sosial?

Biar saya beri contoh.
Perempuan secara fisik dan psikologis, katakan, lebih lemah daripada laki-laki. Oleh karena itu, ketika pulang larut malam, laki-laki umumnya akan mengantarkan perempuan sampai di depan rumah atau paling tidak sampai si perempuan berada di tempat yang dirasa aman. Hal itu terjadi ketika ada laki-laki.

Bagaimana jika hanya ada segerombolan perempuan? Contoh. Saya dan teman saya, Ayudi. Kami berdua perempuan tulen, secara fisik maupun psikologis. Suatu hari kami berdua pergi ke Grand Indonesia untuk mencobaiMagnum Cafe. Ketika tiba saat pulang di waktu malam, Ayudi mengantarkan saya sampai stasiun lalu dia pergi sendiri. Dia (perempuan) mengantarkan saya (yang juga perempuan). Begitu juga sebaliknya. Ketika Ayudi menginap di rumah saya, maka saya punya kebiasaan mengantarnya pulang sampai depan rumah. Saya (perempuan) mengantarkan Ayudi (yang juga perempuan) sampai depan rumah.

Lalu, secara sosial, siapa yang laki-laki siapa yang perempuan?

Saya rasa tidak ada yang perempuan dalam kondisi seperti tadi. Bahkan tidak ada jender. Yang ada hanyalah pikiran logis dan perasaan mengenai tega atau tidak tega, mampu (secara tenaga, materi dan kesempatan) atau tidak mampu. Saya ada kendaraan dan ada waktu, maka saya antar Ayudi sampai rumah, kasihan juga kalau dia harus pulang naik angkot. Begitulah.

Dan ketika tidak ada jender, maka fungsi fisik dan psikologis pun menjadi minim. Fungsi dan daya tarik fisik malah tidak berguna, kecuali dalam kondisi anomali.

Kondisi demikian saya sebut: genderless.

Dampaknya? Semua, kita, perempuan, tidak lagi terikat hal-hal yang bersifat jender. Tidak ada lagi kewajiban-kewajiban perempuan-wi karena yang menuntut terpenuhinya kewajiban-kewajiban itu hanyalah si lawan-jender alias laki-laki.

Saat ini, saya anggap kondisi saya genderless. Saya tidak sedang bersama laki-laki manapun. Hampir seluruh lingkungan saya adalah perempuan.

Jadi soal memilih pekerjaan yang perempuan-wi, masihkah harus saya pertahankan?


Mohon maaf atas kedangkalan akal.


Tita,
beberapa sentimeter dari titik terendah.

Senin, 23 Mei 2011

Apa Rasanya Terbang?

Halo,

Saya makin yakin saya orang yang sangat gampang emosi. Untungnya saya menulis dengan lumayan baik. Jadi komunikasi tidak akan menjadi terlalu parah. Saya harap punya anak-anak dan suami yang senang membaca di kemudian hari. Karena mungkin lemari es akan penuh dengan memo-memo bertulisan tangan saya. Isinya akan macam-macam, mulai dari pujian, omelan sampai pengingat supaya anak-anak membawa bekal makan siang mereka.

Kamu dan orang-orang lain mungkin akan sampai pada titik bosan ketika tulisan saya mulai menggiring kalian untuk merasa demikian. Tapi sungguh, ini jauh lebih baik daripada saya berkomunikasi dengan mulut saya. Atau bahkan dengan jemari saya melalui layanan pesan singkat. Melalui dua medium itu, berbicara seolahmenjadi gerak refleks buat saya, tidak melalui proses berpikir dalam otak kanan ataupun kiri.

Banyak yang ingin dibilang melalui tulisan setengah-panjang ini. Tapi pastinya tiga perempatnya adalah rahasia. Cuma saya yang boleh tahu. Seperempatnya akan dengan senang hati saya bagi ke kamu. Satu persatu. Bait per bait.

Yang utama, saya bangga sekali. Dengan kamu. Saya bangga karena kamu bermetamorfosis begitu indah dari sebuah ulat kecil mungil berwarna hijau saja menjadi kupu-kupu cantik dengan sayap belang warna-warni dan kemudian terbang tinggi memecah belah indahnya langit pagi Setiabudi. Yang lain adalah persoalan-persoalan kecil, seperti soal rasa kangen, rasa ingin mengajak nonton Beta Maluku dan rasa-rasa biasa lain yang kerap juga dirasakan beberapa pecinta yang bertepuk sebelah tangan.

Saya ingat kamu datang dengan berjalan pelan, melihat sekeliling. Selangkah, dua langkah. Mencoba meraba apakah yang perlu dikerjakan untuk hidup. Tubuh hijau kecilmu bergerak maju perlahan. Pelan-pelan. Saya lihat kamu senang menikmati perjalanan. Berjalan kesana kemari bersama beberapa teman sepermainan, sesama yang berwarna hijau dan bertubuh mungil. Mengadu rasa dan asa dari satu tempat ke tempat lain, bertanya-tanya apakah ini tempat yang baik untuk membalut tubuh dalam kepompong dan bersiap untuk sebuah metamorfosis.

Saya juga ingat, masa itu tidak pernah mudah. Waktu terus bergulir dan tubuh hijau mungilmu harus segera mendapat tempat untuk bergelayut manja dan diam tenang dalam kepompong. Cemas juga memburu. Membuat sumbu emosi semakin pendek. Tapi seperti kamu selalu bilang pada saya beberapa bulan terakhir, sabar. Kamu mungkin tidak pernah tahu soal man shabara zafira, sabarlah maka kamu akan beruntung, namun kamu mempraktekkannya jauh lebih baik daripada saya. Ah, saya terlalu banyak teori.

Saya juga samar-samar ingat, ketika setelah perjalanan lelah, maka bertemu juga dengan tempat metamorfosis terbaik. Lalu kamu menanjak menaiki pohon sampai ranting tertinggi. Capek. Kurang tidur pun. Dan cukuplah tempat metamorfosis dengan pemandangan terindah menjadi bayaran semua kekurangan tidur. Pemandangannya jauh lebih indah dari yang dijanjikan pencakar langit manapun. Karena ini pencakar langitmu sendiri.

Lalu kamu membungkus diri dalam hangat sesuatu yang jamak disebut 'kepompong' dalam semua buku pengantar Biologi dasar.

Ah. Seperti baru kemarin. Baru kemarin melihatmu menatap kanan kiri jalan dan berpikir di persimpangan, akan belok kanan, belok kiri atau terus atau diam saja tak peduli yang dibelakang menyuruh maju sekalipun. Seperti baru kemarin, saya melihat semuanya, ketika sekarang semua terjadi di belakang mata.

Sungguh saya ingin mengantar kamu lepas landas dari kepompong. Bukan. Bukan sekedar lepas landas. Saya juga masih ingin berjumpa pada beberapa taman cantik tempat kamu mencari nektar. Atau menunggu di pohon dengan sisa-sisa kepompongmu juga tak apa, menunggu kamu pulang dan mendengar kamu cerita tentang langit dan berbagai jenis bunga.

Sekarang saya sedang mengintip kamu terbang pertama kali. Ingin melambai dengan saputangan bersulam pita warna merah muda tapi percuma. Tidak akan kamu lihat juga. Tapi saya bisa lihat jelas kedua sayap itu mengepak mantap, sayap warna-warni mirip koleksi krayon adik saya. Sayapnya mengantar kamu jauh ke langit atas sana, tempat dimana saya tak bisa kunjungi, karena tidak punya sayap juga.

Apa rasanya terbang? Tapi kamu tidak menjawab.

Dari jauh saya hanya bisa tiupkan keinginan muluk. Semoga masih ada taman untuk tempat bercerita. Atau semoga masih boleh duduk di dekat pohon tempat serpihan kepompong dan menunggu kamu pulang berbagi apa saja. Bahkan sebuah Teh Kotak pun.

Sun jauh,

Tita

Pak Edhie yang Mas Ibas dan Kapten Agus yang Mas Agus

Panggilan 'mas' tampaknya sudah terlalu jamak digunakan oleh masyarakat sekitar saya, walaupun tidak semuanya bersuku Jawa. Yang orang Minang pun, salah satunya etek saya memanggil suaminya dengan sebutan 'mas'. Panggilan 'mas' juga membawa banyak nuansa menurut saya, mulai dari nuansa unggah-ungguh penghormatan sampai dengan nuansa romantis, dengan syarat disebutkan oleh seorang perempuan kepada laki-laki dalam suasana remang-remang *loh*. Tapi bisa juga membawa nuansa 'membesarkan hati', seperti kepada anak kecil supaya iya merasa dewasa dan diharapakan dapat bersikap dewasa.

Panggilan 'mas' dalam perkara sebuah penghormatan, menurut saya sangat lumrah. Biasanya, yang dipanggil 'mas' itu orang-orang yang lebih tua dari saya. Kakak sepupu laki-laki saya misalnya, saya panggil Mas Koko. Dan sebagainya.

Begitu juga panggilan 'mas' dalam konteks mesra. Saya pun rasanya kalau punya kekasih orang Jawa, akan ikut-ikutan memanggil dengan sebutan 'mas'.

Sedangkan penggunaan 'mas' untuk membesarkan hati biasanya saya lakukan kepada adik-adik sepupu ataupun anak-anak lain yang usianya lebih muda. Tapi kebanyakan juga karena terbawa panggilan dari rumah si anak. Jadi ikut-ikutan memanggil 'mas'.

Bagaimana dengan Mas Ibas dan Mas Agus?

Edhie Baskoro atau ngetop dengan panggilan Mas Ibas, anak bontot presiden yang sekarang kerap dipanggil 'mas' bukan hanya oleh mamanya, papanya atau kekasihnya, Aliya. Beberapa orang partainya pun kerap saya 'pergoki' memanggilnya dengan 'mas' dalam media cetak. Padahal orang-orang partai itu bisa sepuluh tahun sampai sepuluh tahun lebih tua usianya dari si Mas.

Anas Urbaningrum, melalui konfirmasi via Twitternya kepada saya, menyebutkan alasannya mengapa memanggil Edhie Baskoro dengan Mas Ibas. Sopan santun, katanya. Karena ia dilahirkan dari keluarga Jawa yang membiasakan memanggil siapapun, seumur atau lebih muda, dengan sebutan 'mas' untuk laki-laki dan 'mbak' untuk perempuan. Jujur saja, saya tergolong puas dengan jawabannya. Walaupun juga penasaran ingin 'menangkap basah' Pak Anas memanggil kolega lain dengan 'mas', seperti Mas Mumtaz Rais atau Mas Nazaruddin atau Mbak Puan atau Mbak Aliya atau malah Mas SBY. I'll see. Pak Anas boleh ngeles sebagai orang Jawa, tapi rupanya, Pak Ruhut yang Batak pun memanggi Edhie Baskoro dengan 'mas', bukan 'bang'. (lihat referensi)

Awalnya, saya pikir hanya Edhie Baskoro saja yang dipanggil 'mas'. Tapi rupanya Agus Harimurti juga dipanggil 'mas' oleh Jubir Presiden SBY, Julian Aldrin Pasha. (lihat referensi)

Saya setuju jika Pak Anas mengedepankan sopan santun. Memang negara ini sudah seharusnya penuh dengan manusia penuh santun dalam bertutur kata. Tapi saya menjadi sedikit terusik ketika saya ingat pengalaman lama saya, ketika saya masih SMA.

Saat SMA, saya punya seorang teman satu sekolah, biasa saya panggil Teteh, karena begitulah dia dipanggil di rumah. Ibu dari Teteh adalah guru Sejarah di sekolah kami, bernama Ibu Ihat. Ajaibnya, tidak seperti Pak Anas dan orang-orang dengan sopan santun lain, Ibu Ihat tidak pernah memanggil teman saya dengan 'teteh' di sekolah, kecuali bercanda dan itu sangat jarang. Dengan lempeng, beliau memanggil dengan menyebut nama, Lugina. Begitu juga dengan teman-teman sesama guru lain. Semua tidak memanggil 'teteh' ketika proses belajar-mengajar berlangsung.

Yang saya lihat dalam hal ini adalah soal profesionalisme. Saat itu, profesi Ibu Ihat adalah guru. Dan sebagai guru, beliau punya kewajiban untuk menyamakan kedudukan semua murid-muridnya, tanpa eksklusifitas, baik dari perkara nama panggilan, apalagi perkara nilai. Kalaulah beliau memanggi Lugina dengan 'teteh' di sekolah, maka konsekuensinya beliau harus juga memanggil saya dengan sebutan 'teteh', begitu juga dengan murid perempuan lainnya. Sekali beliau lalai, maka profesionalitasnya sebagai guru dipertaruhkan. Bukan tidak mungkin beberapa murid akan menggunjingkan perihal perbedaan 'kasta' ini.

Begitupun saya harapkan dilakukan oleh semua profesional politik . Semasa ada sebutan resmi, yaitu Bapak/Pak/Ibu, menurut saya akan lebih elegan dan profesional jika dipanggil demikian. Jangan sampai ada pihak yang menggunjingkan di belakang hanya karena cara memanggil, seperti yang sedang saya lakukan sekarang. Atau lebih pahit lagi, jangan sampai orang jadi capek-capek fitnah dengan asumsi bahwa Pak Anas dan bapak-bapak lain memang 'menganakemaskan' Agus Harimurti dan Edhie Baskoro. Apalagi sampai sekarang, belum satupun politikus 'tua' kepergok oleh saya memanggil Mumtaz Rais dan Hanafi Rais, anak-anak Amien Rais, dengan sebutan 'mas'. Padahal toh sama-sama Jawa dan sama-sama muda di politik.

Lagipula, 'Pak Edhie' walaupun berkesan sangat kolot tapi terdengar lebih berwibawa. 'Mas Ibas' terdengar lebih menye-menye dan hanya cocok dikatakan oleh Mbak Aliya yang imut-imut. Begitu juga 'Kapten Agus', terdengar lebih gagah, seperti Kopral Jono dalam lagu, ketimbang 'Mas Agus' yang berkesan terlalu mudah tertembak di kepala pada medan Lebanon.

Ya, tho, Mas?
(eits, saya kan lebih muda. Boleh dong, panggil 'mas'?)


Mohon maaf atas kedangkalan akal.